Kamis, 14 Mei 2020 - 02:22:57 WIB
Kampoeng Ramadhan Dinilai Gagal Bantu UMKM
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Nasional - Dibaca: 93 kali

Medan (wartamedan.com) -

Kampoeng Ramadhan yang digelar Pemprvsu di Areal PRSU dinilai hanya sekedar proyek yang tidak menyentuh. Artinya, proyek ini dinilai gagal membantu pelaku UMKM ditengah pandemi Covid 19. Pasalnya, meski menggunakan bentuk penjualan drive thru, Kampoeng Ramadhan tersebut justru bertentangan dengan imbauan Gubsu agar masyarakat berdiam diri di rumah dan menghindari kegiatan keramaian untuk menekan penyebaran Covid-19.

Selain itu, tujuan Kampoeng Ramadhan untuk membantu pelaku UMKM juga tidak tercapai, karena kunjungan masyarakat ke 48 stand yang ada di sana, ternyata sepi pembeli.

Pengamat Kebijakan Publik dan Anggaran Elfanda Ananda mengatakan, seharusnya Pemprovsu dapat melihat situasi dan kondisi tertentu dalam menggelar program atau event.

Meski mungkin saja kegiatan Kampoeng Ramadhan itu sudah dirancang di akhir tahun 2019, tapi perlu dilakukan evaluasi, apakah program ini layak atau tidak untuk dilaksanakan.

“Memang dalam situasi pandemi Covid-19 ini, Pemprovsu ingin tetap menggerakkan perekonomian khususnya untuk pelaku UMKM.

Dengan mengikuti Protap pencegahan penyebaran virus dan sepanjang itu bisa dipatuhi, maka program itu bisa membangkitkan aktivitas ekonomi.

“Tapi kalau tidak mampu, misalnya ada berkerumunan, petugas tidak memperhatikan Protap seperti jaga jarak dan pakai masker, maka itu sama saja mengangkangi kebijakan yang sudah dibuat,” ujar Elfanda, kepada Waspada, Selasa (12/5).

Imbas Covid-19

Diketahui, Kampoeng Ramadhan digelar mulai 28 April – 21 Mei 2020, sebagai upaya membantu pelaku UMKM akibat sepinya pendapatan imbas dari dampak Covid-19.

Kampoeng Ramadhan menghadirkan 48 stand UMKM, di mana pembelian produk hanya diperbolehkan membeli produk dengan menggunakan jasa online (Gojek) atau drive thru.

Dikatakan Elfanda, semua program seharusnya perlu dievaluasi terlebih dahulu, apakah ada pengunjung dan tidak melanggar aturan yang telah dibuat. Karena pemerintah ini harus konsisten antara kebijakan dengan apa program yang dilaksanakannya.

“Dievaluasi, apakah ditengah Covid-19 ini akan ada pembeli. Lalu bagaimana dengan imbauan pemerintah sendiri yang meminta rakyatnya untuk tidak keluar rumah. Jadi program ini berkesan dipaksakan, buang-buang anggaran dan tujuannya membantu pelaku UMKM tidak terealisasi,” katanya.

Padahal, lanjut Elfanda, banyak program penting yang dapat dilakukan Pemprovsu untuk membantu rakyatnya, termasuk pelaku UMKM.

Misalnya membantu pemasaran produk UMKM itu melalui online, dan memberi subsidi yang besar untuk pelaku UMKM dalam biaya produksinya.

“Anggaran Kampoeng Ramadhan itu bisa untuk mendorong pemutus rantai penyeberan Covid 19. Jangan terlalu memaksakan kegiatan yang mau dibuat, sedangkan tujuannyapun tidak jelas.

Kalaupun ada Kampoeng Ramadhan ini, apakah pemerintah memikirkan dari mana uang rakyat untuk membeli produk yang dijual tersebut sedangkan mereka banyak tidak bekerja karena dirumahkan atau malah tidak berpenghasilan lagi,” tanyanya.

Kalau Kampoeng Ramadhan itu sepi pengunjung, kata Elfanda, itu sangat wajar. Karena masyarakat tidak membutuhkan program tersebut.

Tapi bagaimana pemerintah hadir ditengah-ditengah masyarakat membantu ditengah kondisi krisis ekonomi dan kesehatan akibat pandemi Covid 19.

“Kalau sepi, artinya Kampoeng Ramadhan gagal bantu UMKM dan membantu pelaku usaha,” tegasnya.

 

 

 

 

-a1/woc-




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)